INTERNET ADDICTION




Adiksi  internet  semakin  menyita perhatian  serius  mengingat  semakin meningkatnya orang  menggunakan  internet  secara  berlebihan  sehingga  mengganggu  kehidupan  pribadi maupun sosialnya.  Perilaku  adiktif  tersebut mengganggu pekerjaan, sekolah dan kehidupan  sosialnya.  Diantara  semua perilaku adiktif, persoalan  adiksi   internet belakangan  ini dinilai  paling  menonjol seiring  dengan  semakin meningkatkan  penggunaan  internet  oleh  masyarakat.   Fungsi internet  yang memungkinkan pengguna melakukan interaksi dan sosialisasi secara efektif dan menarik menjadi alasan utama mengapa orang mau secara berlebihan menggunakan waktunya di internet.

Faktor-faktor etiologi internet addiction menurut Montag dan Reuter (2015) terdapat tiga faktor yang mempengaruhi adiksi internet yaitu faktor sosial, psikologi, dan biologis
a. Faktor sosial
Kesulitan dalam melakukan komunikasi interpersonal atau individu yang mengalami permasalahan sosial dapat menyebabkan penggunaan internet yang berlebihan. Hal tersebut disebabkan individu merasa kesulitan dalam melakukan  komunikasi dalam situasi face to face, sehingga individu akan lebih memilih menggunakan internet untuk melakukan komunikasi karena dianggap lebih aman dan lebih mudah daripada dilakukan secara face to face. Rendahnya kemampuan komunikasi dapat juga menyebabkan rendahnya harga diri, mengisolasi diri menyebabkan permasalahan dalam hidup seperti kecanduan terhadap internet (Reuter, 2015).
b. Faktor psikologis
Kecanduan internet dapat disebabkan karena individu mengalami permasalahan psikologis seperti depresi, kecemasan, obsesive compulsive disorder (OCD), penyalahgunaan obat-obat terlarang dan beberapa sindroma yang berkaitan dengan gangguan psikologis. Gangguan tersebut memicu individu untuk melarikan diri dari masalah, menerima hiburan menjadi rasa senang dari penggunaan internet. Pelarian diri ini menyebabkan individu terdorong untuk lebih sering menggunakan internet sebagai pelampiasan dan akan menyebabkan kecanduan (Reuter, 2015).
c. Faktor biologis
Penelitian yang dilakukan oleh Montag & Reuter (2015) dengan menggunakan functional magnetic resonance image (fMRI) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan fungsi otak antara individu yang mengalami kecanduan internet dengan yang tidak. Individu yang mengalami kecanduan internet menunjukkan bahwa dalam memproses informasi jauh lebih lambat, kesulitan dalam mengontrol dirinya dan memiliki kecenderungan kepribadian depresif.

Dampak internet addiction
Penggunaan internet bisa dilakukan dengan faktor pendukung, seperti komputer, notebook atau melalui telepon seluler. Penggunaan internet oleh semua kalangan dapat memberikan dampak terutama oleh remaja dapat memberikan dampak positif maupun negatif, hal ini terjadi karena remaja cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial tanpa mempertimbangkan efek yang akan diterima saat melakukan aktivitas internet
Dampak negatif seperti berkurangnya interaksi sosial secara langsung dengan teman-teman karena ketika berkumpul bersama subjek merasa teman-temannya lebih banyak bermain handphone dibandingkan ngobrolnya, seringnya menunda-nunda pekerjaan, menunda mengerjakan tugas, mengalami insomnia atau susah tidur, terganggunya kesehatan mata, menurunnya prestasi belajar karena asyik bermain internet sehingga merasa malas untuk belajar
Ketika offline remaja dapat merasakan perasaan takut, gelisah, cemas, bingung, bosan, was-was, panik, dan sedih, sebel dan kesel hati. Aktivitas yang dilakukan ketika offline atau ketika sedang tidak mengakses internet biasanya ketika itu remaja sedang tidur atau menyibukkan diri dengan menonton film yang sudah di down load-nya Ketika online subjek biasanya akan mengakses sosial media seperti Instagram, line, whatsapp, pat, facebook, twitter, streamingan youtube dan membuka google untuk mengerjakan tugas atau laporan. Perasaannya senang, tenang, bahagia,merasa memiliki hal-hal baru yang pasti didapat dengan cepat, remaja merasa bisa mengetahui tentang dunia luar, merasakan bisa mendapatkan banyak informasi dengan cepat serta merasakan perasaan yang sangat senang dan bahagia apalagi bila akses internet sangat cepat karena dengan begitu mereka bisa mengakses lebih banyak banyak hal dengan cepat dan merasa ingin berlama-lama ditempat tersebut. Dengan berinternet ternyata dapat membantu untuk mengurangi rasa marah, emosi dan sedih agar menjadi lebih tenang. Ketika sedang menghadapi suatu permasalahan  lebih sering mengakses internet untuk membuka youtube agar bisa melihat video-video lucu, vlog-vlog para youtuber, membuka sosial media seperti whatsapp dan LINE untuk sekedar curhat dengan teman, dan membuka google untuk menggunakan google maps ketika sedang tidak tahu arah jalan yang benar dan ketika sedang mengerjakan tugas yang sulit.  

Dampak positifnya, dari kehadiran internet remaja merasakan adanya kemudahan untuk berkomunikasi seperti untuk saling bertukar kabar, mengirim pesan, chatting, mengambil atau mengirim informasi dan sarana untuk hiburan mencari informasi terbaru dengan mudah dan cepat, untuk saling bertukar kabar mengenai informasi tentang tugas kuliah, mempermudah untuk mencari solusi dari masalah yang sedang di hadapi, dan menambah atau memperluas jaringan pertemanan.



Tindakan preventif agar tidak mengalami internet addiction
  1. Melakukan kegiatan yang Anda senangi (hobi), dengan begitu Anda dapat mengurangi intensitas penggunaan internet
  2. Anda dapat melakukan detoks internet dengan cara tidak berhubungan dengan alat elektronik yang berhubungan dengan internet pada waktu-waktu tertentu. Ketika Anda sedang melakukan detoks internet Anda dapat mengisi waktu dengan kegiatan seperti berolahraga, membaca buka, atau melakukan hal-hal simple seperti menata ruangan.
  3. Berinteraksi dengan teman secara langsung, dan membuat waktu yang berkualitas dengan tidak menggunakan Gadget.
  4. Perbanyak ilmu dan pengetahuan mengenai dampak penggunaan internet, sehingga kita dapat membatasi diri dan menyadari mana hal yang baik dan hal yang buruk.
  5. Jangan membiasakan menggunakan internet untuk mencari hiburan, karena dengan banyaknya hiburan yang kita lihat diinternet sepeti, game online, video online dan sebagainya akan menyebabkan berkurangnya waktu Anda untuk bersosialisasi dengan orang-orang terdekat anda.
  6. Biasakan meluangkan waktu untuk Family Time setiap hari. Biasakanlah meluangkan waktu untuk sekedar berbincang, bercerita mengenai kegiatan Anda dalam satu hari bersama keluarga, atau hanya sekedar bercanda, hal tersebut cukup efektif untuk anda tidak berinteraksi dengan internet.
  7. Kurangi intensitas penggunaan internet sedikit demi s Kebiasaan berlama-lama didepan internet seperti menghabiskan waktu seharian untuk browsing akan berdampak buruk pada kesehatan, maka mulailah kurangi kebiasaan tersebut secara perlahan.
  8. Mengubah pola kebiasaan online. Jika kebiasaan online Anda menghabiskan waktu seharian untuk hal-hal yang tidak terlalu bermanfaat bagi Anda, maka mulailah mengubah prioritas online Anda, misalnya gunakan internet untuk membaca email, membaca berita, dan mencari tugas.
  9. Meningkatkan pemahaman mengenai bahayanya penggunaan gadget yang terlalu lama, sehingga dapat menimbulkan internet addiction

Tindakan intervensi yang harus dilakukan jika sudah terjadi atau mengalami internet addiction
Pengelolaan diri perilakuan adalah salah satu strategi pengelolaan diri yang berguna untuk meningkatkan kontrol diri secara konseptual yang didasarkan pada teori pembelajaran sosial yang dikemukakan oleh Bandura. Teknik ini merupakan teknik modifikasi perilaku yang berguna untuk mengatur dan mengarahkan perilaku bermasalah (Miltenberger, 2004). Menurut Soetarlinah Soekadji (Purwanta, 2012) langkah-langkah pelaksanaan teknik ini melalui empat tahapan, yaitu tahap monitor atau observasi, tahap pengaturan lingkungan, tahap evaluasi diri dan tahap pemberian pengukuhan, penghapus dan penghukum. Teknik pengelolaan diri (self management) pernah dilakukan sebelumnya dalam menangani rasa sakit dan penyembuhan dari cidera yang terjadi pada atlet olahraga (Bandura, 1997). Efek nyeri tidak hanya terbatas dirasakan pada penderita saja, reaksi akan sakit yang mereka alami juga dapat memengaruhi bagaimana orang di sekitarnya mengatasi rasa sakit. Selain itu, keyakinan akan keberhasilan dari pengelolaan diri ini juga menjadi kunci utama penyembuhan. Pengelolaan diri juga dilakukan pada individu yang menderita penyakit kronis. Seseorang tidak hanya harus mengurangi gejala yang lebih atau kurang secara pribadi tetapi juga harus melakukan kontrol pribadi atas perawatan medis dan perawatan yang diresepkan untuk mereka. Oleh karena itu, dalam program pengelolaan diri, seseorang diajarkan bagaimana untuk mengambil inisiatif lebih besar untuk perawatan kesehatan dan berkonsultasi dengan petugas kesehatan untuk mengoptimalkan manfaat kesehatan. Pengelolaan diri bermanfaat untuk meningkatkan kontrol diri dalam melakukan segala sesuatu (Corsini, 1994). Kontrol diri di sini diperlukan oleh seseorang sebagai pengguna internet yang seringkali mengalami kesulitan dalam menghentikan penggunaan internet. Teknik ini memiliki kelebihan dalam penggunaannya yaitu perubahan yang diperoleh lebih tahan lama, karena subjek menganggap keberhasilannya dipengaruhi oleh usahanya sendiri.
Dilihat dari jurnal Intervensi Psikologi, Vol 6 Juni 2014 yang saya pilih menggunakan metode penelitian untuk melihat kecanduan internet mahasiswa yogyakarta. Intervensi dalam penelitian berupa pengelolaan diri perilakuan.
Hasil dari penelitian dapat diketahui bahwa perlakuan berupa teknik pengelolaan diri perilakuan memiliki pengaruh dalam menurunkan kecanduan internet. Hasilnya, 6 orang subjek memiliki kecanduan internet dengan skor yang lebih kecil dibandingkan sebelum mengikuti program ini. Sementara 1 orang lainnya tidak mengalami penurunan maupun peningkatan terhadap skor kecanduan internet. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti terbukti atau dapat diterima. Adapun grafik mengenai hasil dari pengukuran skala prates dan pascates subjek penelitian eksperimen adalah sebagai berikut, Pengukuran Skala Prates dan Pascates Diterimanya hipotesis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa teknik pengelolaan diri perilakuan memberikan pengaruh terhadap penurunan kecanduan internet pada mahasiswa. Sesuai dengan teori dari Corsini (1994) yang menjelaskan bahwa pengelolaan diri perilakuan adalah salah satu dari strategi dalam peningkatan kontrol diri. Kontrol diri memiliki pengaruh terhadap kecanduan internet, di mana pengguna internet yang memiliki kontrol diri yang tinggi, akan memiliki skor kecanduan internet yang lebih kecil. Kontrol diri sebagai salah satu faktor penyebab kecanduan internet juga dibuktikan dalam penelitian sebelumnya. Hasil dari penelitian tersebut menjelaskan bahwa kemampuan kontrol diri memiliki hubungan yang negatif dengan kecanduan internet. Artinya, semakin tinggi kontrol diri yang dimiliki seseorang, maka semakin rendah kecanduan internetnya, begitupun sebaliknya. (Widiana; Retnowati; dan Hidayat, 2004; Sari, 2011). Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Yogyakarta. Hal ini dikarenakan mahasiswa adalah salah satu orang yang cenderung lebih mudah mengalami penggunaan internet yang bermasalah. Mahasiswa dituntut untuk lebih sering bekerja dengan internet, sehingga semakin besar kemungkinan untuk mengalami kecanduan (Hasanzadeh; Beydokhti dan Zadeh, 2012). Mahasiswa menggunakan internet semata-mata untuk mencapai kesenangan dan menghindari perasaan yang tidak menyenangkan. Perasaan ini muncul dikarenakan beban dan tuntutan dalam menyelesaikan tugas perkuliahan (Zulaicha dan Sugiasih, 2011). Fokus penelitian pada kecanduan internet dengan skor sedang, dilihat dari hasil skor prates. Kecanduan internet yang akan diteliti di sini memiliki delapan kriteria yang akan diberikan pengaruh melalui teknik pengelolaan diri perilakuan. Tahapan dalam pengelolaan diri menjadi acuan peneliti dalam membuat modul program pengelolaan diri perilakuan.





sumber:

Comments

Popular posts from this blog

Cara panda berkembang biak

Peran Sosial Individu dalam Internet